BANYUMAS(TERASMEDIA.ID)-Kamis 9 Desember 2021, di Dukuh Kalitanjung Desa Tambak Negara Kecamatan Rawalo, pria dan wanita mengenakan pakaian serba hitam dan ikat kepala batik untuk kaum priyanya, terlihat iring- iringan membawa bekal tumpeng nasi berbentuk kerucut dan aneka lauk pauk.

Tumpeng nasi dan aneka lauk pauk ini, rupanya akan dimakan bersama sama saat berkumpul, dan sisanya akan dibawa pulang diyakini akan membawa berkah untuk keluarga.

Mereka menuju ke panembahan berupa makam leluhur yang beberapa waktu lalu selesai dibangun tembok keliling sepanjang 47 meter, mengelilingi cungkup makam leluhur embah Agung Wetan yang merupakan cikal bakal kakek moyang masyarakat Tambak Negara.

Sejumlah 180 sesepuh kiai kejawen dan nyai kejawen serta para tokoh masyarakat adat kejawen bersama- sama mengucap syukur kepada sang Chaliq pencipta Alam semesta karena tembok pagar keliling makam telah selesai dibangun.

“Ritual adat kejawen yang masih dipertahankan sampai sekarang merupakan budaya asli leluhur yang masih dipertahankan oleh masyarakat Desa Tambak Negara Grumbul Kalintanjung Kecamatan Rawalo,”kata David Okta Nugraha tokoh pemuda Rawalo yang ikut hadir dalam acara slametan tersebut.

David Okta Nugraha, mengaku, melestarikan budaya leluhur kejawen haruslah dipertahankan. Karena di dalamnya ada nilai- nilai luhur adat istiadat turun temurun utamanya dalam bentuk gotong royong sesama masyarakat.

“Kerukunan bermasyarakat sangat terlihat dalam kehidupan masyarakat Desa Tambak Negara,”ujar David Okta Nugraha.

Mbah Muharto, sesepuh adat kejawen menjelaskan, bahwa acara ritual selametan ini mutlak dilakukan oleh masyarakat Tambak Negara, dan manakala niatan sudah terlaksana, mereka mengucapkan rasa syukur kepada Allah pencipta alam semesta.
“Ada beberapa ritual kejawen yang masih dipertahankan adalah, ritual tolak bala, doa mencegah mara bahaya, dan masih banyak lagi ritual kejawen yang tetap dipertahankan,”ucap Mbah Muharto.

Hadir pada acara ini, Forkopincam Rawalo dan Kades Tambak Negara, Sulam(56).

Sulam, sangat mengapresiasi upaya para sesepuh kejawen Kalitanjung yang secara bergotong- royong dapat mewujudkan bangunan tembok keliling panembahan hingga menelan biaya Rp 42 juta.(H-03)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini